Postingan

intermezo ramadhan

ramadhan telah tiba. sudah sekitar enam tahun menjalani ramadhan yang tak biasa. sudah enam tahun aku menjalani ramadhan di pesantren. sambil ngaji, semoga tambah ilmu agama saya. namun, karena telah menjadi rutinitas, ramadhan pada akhirnya berjalan sambil lalu saja. maaf, jujur saja, aku tak bisa lagi merasakan ramadhan sebagai bulan yang penuh berkah, maghfirah, ampunan dari Gusti Allah. ya Allah, nyuwun pangapunten Panjenengan. mugi ing warsa ngajeng, kula saged ngrasakke ramadhan, ingkang wonten serat Penjengangan (Al Quran), bakal ndadosaken kita (umat islam) takwa. semoga tahun depan aku dapat bertemu ramdahn lagi. ramadhan yang benar-benar ramadahn yang dijanjikan oleh Allah. asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa asyhadu anna muhammadan rasululllah

pondok idjoe

untuk semua teman, rekan santriwan santriwati ustadz ustadzah jika aku memiliki salah, maafkanlah. karena dengan kesalahan itu aku lebih memahami arti kebenaran dan kedewasaan. kebenaran adalah cahaya tempat yang terang akan tampak lebih terang dan gelap akan jadi terang.

rekah kata dan makna

tentang cinta, aku tak bisa mendefinisikannya. cinta terlalu agung, dan kata-kata, kau tahu, tak akan cukup mendefinisikannya. maka biarlah cinta tetap andefinitif.

kritik sastra

Kritik Relijiusitas dalam Cerpen Gus Mus Pada tahun 1950-an, publik sastra Indonesia digemparkan cerpen AA Navis yang bejudul Robohnya Surau Kami. Dengan cepat cerpen ini menjadi perbincangan karena tema yang dosodorkan ”mengejek” sistem keberagamaan (Islam) yang sudah mapan. Katakanlah, saat itu banyak orang memisahkan antar kahidupan duniawi dan ukhrowi. Kehidupan ukhrowi –dengan meninggalkan kehidupan duniawi, dianggap lebih ”suci” dan mampu mengantarkan umatnya ke surga. Kini, Gus Mus (KH Mustofa Bisri) meneruskan estafet AA Navis dengan cerpen yang tak jauh beda. Hanya saja, Gus Mus lebih mengekplorasi dunia pesantren di Jawa, dunia tempat kyai ini bergelut dalam keseharian. Dalam cerpen-cerpennya, Gus Mus mengajak kita memahami dunia pesantren dan relijiusitas secara lengkap. Termasuk dunia sufistik yang jarang terekspos ke publik. Salah satu cerpen Gus Mus yang menarik adalah Amplop Abu-Abu. Cerpen ini mengisahkan seorang mubaligh yang kesehariannya diisi dengan berceramah, ...

kritik sastra

Kritik Relijiusitas dalam Cerpen Gus Mus Pada tahun 1950-an, publik sastra Indonesia digemparkan cerpen AA Navis yang bejudul Robohnya Surau Kami. Dengan cepat cerpen ini menjadi perbincangan karena tema yang dosodorkan ”mengejek” sistem keberagamaan (Islam) yang sudah mapan. Katakanlah, saat itu banyak orang memisahkan antar kahidupan duniawi dan ukhrowi. Kehidupan ukhrowi –dengan meninggalkan kehidupan duniawi, dianggap lebih ”suci” dan mampu mengantarkan umatnya ke surga. Kini, Gus Mus (KH Mustofa Bisri) meneruskan estafet AA Navis dengan cerpen yang tak jauh beda. Hanya saja, Gus Mus lebih mengekplorasi dunia pesantren di Jawa, dunia tempat kyai ini bergelut dalam keseharian. Dalam cerpen-cerpennya, Gus Mus mengajak kita memahami dunia pesantren dan relijiusitas secara lengkap. Termasuk dunia sufistik yang jarang terekspos ke publik. Salah satu cerpen Gus Mus yang menarik adalah Amplop Abu-Abu. Cerpen ini mengisahkan seorang mubaligh yang kesehariannya diisi dengan berceramah, ...

perpusda grobogan

Perpusda Setelah SOTK Oleh Junaidi Abdul Munif Peran Perpusda (Perpustakaan Daerah) Kabupaten Grobogan teramat penting bagi perkembangan SDM (sumber daya manusia) masyarakat Grobogan. Diharapkan, Perpusda menjadi kawah candradimuka pergulatan intelektualitas warga Grobogan yang, -jujur harus diakui- belum banyak tergali. Sebelum SOTK (Sistem Operasional dan Tata Kerja) yang sampai sekarang belum “ketok palu”, Perpusda bernaung di bawah atau bersatu dengan bagian Pengolahan Data dan Arsip Daerah. Penyatuan dua bagian yang berbeda ini, sedikit banyak berpengaruh bagi kinerja Perpusda. Sebab, Perpusda tak bisa melaksanakan kebijakannya sendiri yang otonom. Perpusda harus mendapat persetujuan dari bagian yang secara hierarkis berada di atasnya. Bupati Grobogan, H Bambang Pudjiono mengatakan, ada empat perda yang masih dievaluasi gubernur sehingga belum bisa dilaksanakan hingga akhir bulan Mei (Suara Merdeka, 31 Mei 2008). Yang menggembirakan, perda tentang Perpusda tak termasuk dari emp...

apatisme demokrasi

Sikap Politik yang Apolitis Oleh Junaidi Abdul Munif Hajatan besar Jawa Tengah untuk memilih gubernur dan wakil gubernur telah terlaksana pada minggu, 22 Juni 2008. Untuk pertama kali inilah, warga Jawa Tengah memilih secara langsung pemimpinnya. Sebuah cara berdemokrasi yang telah lama diimpikan oleh mereka yang merindukan demokrasi rakyat yang partisipatif. Seluruh lembaga yang berkaitan langsung maupun tidak dengan pemilihan gubernur ini sudah cukup proaktif untuk mensosialisasikan pelaksanaan pilgub. Namun, di lapangan sungguh ironis. Angka golput terbilang tinggi. Rata-rata 40 persen. Bahkan ada yang lebih dari 50 persen. Sebuah antiklimaks dari pesta demokrasi, jika menilik seharusnya gawe besar ini disambut oleh seluruh masyarakat Jawa Tengah dengan antusias. Demokrasi yang dalam bahasa Jerman didefinisikan dengan regierung der regierten, pemerintahan dari mereka yang diperintah (F Budi Hardiman) mengandaikan sebuah ruang di mana kepentingan rakyat harus disampaikan kepada pe...