Postingan

Menampilkan postingan dengan label Agama

Melindungi Anak-Anak dari Radikalisme

Melindungi Anak-Anak dari Radikalisme Oleh Junaidi Abdul Munif         Tragedi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo memunculkan fakta yang mencengangkan, dua keluarga bersama anak-anaknya menjadi terduga peledakan bom. Keluarga Dita Oeprianto dan Puji Kuswati bersama empat buah hatinya semuanya meninggal saat meledakkan bom di tiga gereja pada Minggu pagi. Sedangkan keluarga Anton Febrianto di rusunawa Sidoarjo, ada tiga anak yang selamat. Bahkan ada satu anak Anton yang selamat dari pemikiran orangtuanya karena memilih sekolah dan tinggal bersama neneknya.             Pelaku terorisme semakin menakutkan karena telah melibatkan anak-anak sebagai martir. Kita tidak tahu apakah anak-anak tersebut secara sadar memilih ikut bunuh diri bersama orangtuanya. Atau mereka telah dibohongi orangtuanya, tidak tahu bahwa yang dibawanya adalah bom. Fenomena ini sebetulnya juga bukan perkara baru. Bahwa pemikiran radi...

Kebangkitan Ilmu Politik Nusantara

Gambar
Data Buku Judul                           : Pesantren Studies 4a; Buku IV; Khittah Republik Kaum Santri dan Mada Depan Ilmu Politik Nusantara Penulis                     : Ahmad Baso Penerbit                    : Pustaka Afid Jakarta Tahun                       : April 2013   Tebal                         : xiv + 437 halaman Kebangkitan Ilmu Politik Nusantara Oleh Junaidi Abdul Munif Selama ini pesantren distigmatisasi sebaga...

Kita dan Agama Warisan

              Kita harus mengakui, bahwa kebanyakan agama yang kita anut merupakan warisan dari orangtua, bukan karena kesadaran yang muncul karena proses pencarian untuk memilih agama. Bagaimana seandainya kita dilahirkan oleh orangtua yang tak beragama? Kemungkinan kita juga tidak akan menganut suatu agama pun. Kecuali, lingkungan sosial, -terlepas dari peran orang tua-, telah membuat kita tertarik untuk memeluk suatu agama tertentu. Lingkungan terdekat; keluarga dan masyarakat ikut mendukung pewarisan agama ini. Kita, yang ketika dewasa kemungkinan besar juga akan mewariskan agama kepada anak-anak kita, berada dalam lingkaran pengetahuan keberagamaan yang bergerak “lambat”. Agama dipahami secara kognitif (syariat), dan belum sampai kepada afektif (religiositas) dan psikomotorik (sikap tolerantif). Situasi demikian adalah risiko generasi kemudian, yang lahir ketika agama samawi (agama yang berada serumpun Abrahamic...

Fatwa Haram Pengiriman TKI; Sebuah Solusi?

            Pasca eksekusi hukuman pancung terhadap Ruyati, TKW asal Bekasi di Arab Saudi, kondisi di dalam negeri sudah patut diduga; heboh! Presiden membentuk semacam satgas TKI, Menlu dipanggil DPR, Menarkertrans “mengadem ayemi” dengan moratorium, aktivis menggelar demonstrasi, dan MUI mengeluarkan fatwa haram pengiriman TKI.             Semua sah-sah saja karena persoalan hukuman pancung kepada Ruyati bukan hanya persoalan individu Ruyati, melainkan persoalan harkat dan martabat bangsa Indonesia di mata negara lain. Jika masalah Ruyati tidak selesai, akan banyak Ruyati-Ruyati lain yang menunggu eksekusi.             Lantas mampukah fatwa haram pengiriman TKI yang dikeluarkan oleh MUI mampu menghentikan pengiriman TKI ke luar negeri? Saya merasa skeptis fatwa MUI kesekian kali ini akan dapat dipatuhi oleh ma...

Agama (Sebagai) Komoditas

            Agama hadir sebagai jalan menuju kebahagiaan. Doktrin, dogma maupun ajaran agama seperti memberi garansi tentang kebahagiaan hidup. Bahagia adalah konsepsi yang abstrak, tak dapat diraba kecuali gejala yang tampak dari orang yang dianggap bahagia. Surga menjadi puncak kebahagiaan manusia kenapa mereka memilih untuk memeluk sebuah agama. Religiusitas menjadi sikap yang tampak, sementara spritualitas layaknya kebahagiaan yang abstrak itu. Maka dalam hadits, Nabi menyindir manusia yang seolah beramal akhirat padahal ia sedang beramal dunia, dan sebaliknya, ada manusia yang kelihatannya beramal dunia, padahal ia sesungguhnya beramal akhirat. Segala upaya dilakukan manusia agar hidupnya kelak berakhir di surga yang kekal. Fitrah manusia sebagai makhluk beragama yang menyembah dzat yang agung dan transendental (Tuhan), meyakini bahwa hidup tak hanya di dunia yang kini dijalani, melainkan juga ada alam kehidupan berikut...

Visi Keindonesiaan NU

Visi Keindonesiaan NU             Tanggal 31 Januari menjadi tanggal istimewa bagi warga nahdliyin , karena jam’iyah Nahdhatul Ulama’ (NU) merayakan hari jadinya. Tahun ini NU genap berusia 8 9 tahun. Usia yang matang bagi sebuah ormas untuk berkiprah dalam dinamika Indonesia yang mengalami pasang surut. Boleh disebut, NU adalah aswaja yang berdialektika dengan budaya (tradisi) khas Indonesia yang telah   berkembang sejak pra-Islam.   Ditahbiskan sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia, -bahkan ada yang mengatakan di dunia-, tidak lantas menjadikan NU jumawa dan besar kepala. NU tetap memegang kukuh sikap ketradisionalannya, -sebuah stigma yang begitu lekat dengan ormas ini sejak mula didirikan. Jika tradisionalisme menjadi antitesis modernisme, dengan serta merta kita akan ”terjebak” pada dikotomi NU-Muhammadiyah. Almuhafazatu ’ala al qadim al shalih wa al ahzu bi jadidi al aslah (merawat tradisi m...