Postingan

posmodernisme

Gelombang Posmodernisme dan Iklan Oleh Junaidi Abdul Munif Dunia mengalami perubahan ekstrem pada tahun 1960-an, selepas perang dunia kedua. Posmodernisme adalah istilah yang menjadi jamak diangkat dalam berbagai diskusi, seminar, dan menjadi diskursus yang merupakan santapan lezat para filsuf kontemporer yang mengabdikan sebagian hidupnya untuk menelaah fenomena sosial yang menggurita ini. Secara harfiah, posmodernisme adalah sebuah fenomena sosial setelah era modernisme. Posmodernisme dimaksudkan sebagai cara pandang untuk menolak modernisme dengan anak kandungnya: kapitalisme. Sebuah cara pandang yang memberi fajar harapan bagi dunia ketiga (khususnya) karena merekalah negara yang paling dirugikan dalam sistem kapitalisme-modernisme. Namun, segera saja muncul kritik terhadap posmodernisme, seperti Frederich Jameson yang terpengaruh Ernst Mendel dengan bukunya Late Capitalism (1972). Late Capitalism (kapitalisme lanjutan) boleh disebut sebagai semacam kolonialisme gaya baru, di ma...

HUTAN BERBASIS MASYARAKAT

Hutan Berbasis Masyarakat Oleh Junaidi Abdul Munif Apa yang dilakukan oleh Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih, Kabupaten Grobogan yang siap memmberikan bagi hasil Pengeloaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) sebesar 451 juta rupiah (SM, 14 Januari 2009) patut diapresiasi positif. Minimal hal ini bisa mengikis paradigma bahwa ada jarak antara pengleola hutan (pemerintah) dan masyarakat yang hidup di lingkungan hutan tersebut. Sinergi yang positif antara Perhutani dan masyarakat juga menepis paradigma tentang masyarakat nakal yang mencuri kayu (blandong) untuk kepentingan pribadi. Karena kriminalitas hutan ini akan berdampak jangka panjang bagi kelangsungan ekologi hutan. Terbukti, setelah ada sinergi ini angka kehilangan kayu menurun drastis dari tahun 2007 yang mencapai 1.000 batang menjadi 500 batang pada tahun 2008. Jika kerja sama ini terus ditingkatkan, bukan mustahil angka kehilangan kayu ini akan terus menurun di tahun-tahun berikutnya. Memang hutan di wilayah Grobogan, teru...

SELAMAT HARLAH NU KE 83

Visi Keindonesiaan NU (Refleksi Anak Muda NU) Oleh Junaidi Abdul Munif Tanggal 31 Januari nanti Nahdhatul Ulama’ (NU) genap berusia 83 tahun. Usia yang cukup matang bagi sebuah ormas dalam berdialektika dengan dinamika Indonesia yang mengalami pasang surut. Boleh disebut, NU adalah aswaja yang berdialektika dengan budaya (tradisi) khas Indonesia yang berkembang sejak pra-islam. Ditahbiskan sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan ada yang mengatakan di dunia, tidak lantas menjadikan NU jumawa dan besar kepala. NU tetap memegang kukuh sikap ketradisionalannya, sebuah stigma yang begitu lekat dengan ormas ini sejak mula didirikan. Almuhafazatu ’ala al qadim al shalih wa al ahzu bi jadidi al aslah (merawat tradisi masa lalu yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik adalah kaidah masyhur NU yang menjadi pijakan warga nahdliyin dalam bersikap. Istilah yang oleh Gus Dur diejawantahkan dalam terma Islam Kosmopolitan itu adalah sikap arif dalam menjaga Indonesia da...

sekolah unggulan?

Paradigma Unggulan Oleh Junaidi Abdul Munif Dunia pendidikan kita mengalami apa yang disebut komersialisme pendidikan. Amanat undang-undang dasar 1945 menyiratkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Namun, karena komersialisme pendidikan ini, hanya warga negara yang kaya saja yang mampu menikmati pendidikan lebih baik. Hal ini diperparah dengan paradigma unggulan di masyarakat kita. Masyarakat kita selalu menganggap bahwa sesuatu yang unggulan pasti menyediakan fasilitas dan kualitas tenaga pendidik yang baik. Fasilitas dan tenaga yang baik akan menghasilkan lulusan yang baik pula. Begitu hukum kausalitasnya. Kuliah di Perguruan Tinggi (PT) negeri atau unggulan akan menghadirkan prestis (gengsi) tersendiri. Maka banyak calon mahasiswa memilih universitas negeri ketika mendaftar, baru PT Swasta sebagai alternatif jika tak diterima di PT Negeri. Karena dicap sebagai universitas unggulan inilah, banyak universitas yang dengan seenaknya memberikan syarat masuk beru...

resensi buku

Pemilu Amerika untuk Dunia Oleh Junaidi Abdul Munif Data Buku Judul : Barack Obama VS McCain, Duel Poliitk yang Sangat Menentukan Perubahan nasib Amerika dan Dunia Penulis : Achmad Munif Penerbit : Narasi, Jogjakarta Terbit : Juli, 2008 Tebal : 104 halaman November 2008, negara adidaya Amerika Serikat (AS) akan melangsungkan pemilihan presiden. Pemilu yang tidak hanya ditunggu oleh maysarakat AS saja, tapi oleh warga dunia. Hal ini karena presiden Amerika akan ikut menentukan peta politik, ekonomi dan keamanan dunia. Genderang pertarungan itu telah dimulai dengan terpilihnya Barack Obama dan John McCain yang akan bertarung sebagai capres dari Partai Demokrat dan Republik. Setelah sebelumnya perhatian dunia tersedot melihat pertarungan ketat dan menegangkan di intrenal partai Demokrat antara Obama dan Hillary Clinton, istri Bill Clinton. Untuk menyemarakkan pertarungan itu, bertebaranlah buku-buku yang membahas tentang pemliu AS itu. Seperti buku yang ditulis Achmad Munif yan...

rengeng-rengeng

Strategi Politik Menjelang 2009 Oleh Junaidi Abdul Munif Satu tahun menjelang pemilu 2009 adalah masa-masa rawan pemerintahan SBY-JK. Dalam empat tahun ini angka-angka merah masih mendominasi rapor SBY-JK. ”Lawan-lawan” politik SBY sudah mulai bergerilya dengan melakukan ”kampanye terselubung”. Tujuannya jelas, sebuah langkah awal menjelang pemilu 2009. Para pengamat politik saat ini menganalisis bahwa posisi SBY sangat tidak aman. Ada ketidakstabilan dalam Kabinet Indonesia Bersatu, termasuk ”renggangya” hubungan RI 1 dan RI 2. Dia tidak hanya ”diserang” oleh pihak di dalam pemerintahan (kabinet dan partai yang berkoalisi dengannya), tapi juga pihak luar yang menempatkan dirinya sebagai oposan. Oposan inilah yang kerap memunculkan statement yang ”menggoyang” singgasana SBY. Salah satu tokoh yang mencuat adalah Megawati Soekarno Putri. Popularitas putri presiden pertama RI ini mulai menggeser popularitas SBY yang mulai redup. Megawati berhasil memanfaatkan momentum ketidakpercayaan ...

pemimpin muda

Saatnya Pemuda Memimpin Oleh Junaidi Abdul Munif Hadirnya peminpin muda adalah sebuah keniscayaan. Regenerasi kepemimpinan di Indonesia harus segera dimulai. Kekuatan stasus quo yang diwakili tokoh-tokoh tua dan masih bercokol di kursi pemerintahan adalah "benalu" yang gagal membawa bangsa ini dari jurang keterpurukan. Bukan semata majunya Barack Obama sebagai capres dalam pilpres Amerika Serikat yang membuat kita latah untuk meneriakkan saatnya pemimpin muda maju di garda depan. Harus diakui, majunya Obama sedikit banyak menjadi faktor. Namun, lebih tepat kiranya jika Obama dilihat sebagai momentum. Bahwa negara sekuat Amerika yang berlimpah sumber daya manusia, membutuhkan seorang figur muda yang tampil di depan. Apalagi Indonesia yang baru belajar berdemokrasi. Indonesia mengalami krisis berkepanjangan. Terbukti, selama dipimpin oleh golongan tua, belum ada kemajuan yang signifikan. Kebijakan lebih dibuat dengan asas hati-hati dan reaksioner, tanpa inovasi dan spirit k...