Postingan

Memahami "Sang Lain" Lewat Media

Perkembangan masyarakat dan kebudayaan sekarang tak bisa dilepaskan dari media. Media menjadi “agen kebudayaan” tersendiri untuk memahami fenomena masyarakat. Cultural studies menjadi genre teoretis untuk menguak bagaimana media itu beroperasi untuk membentuk, menghegemoni, dan menciptakan opini di masyarakat. Melepaskan media dari konteks sosial, politik, ekonomi adalah pekerjaan yang tolol untuk saat ini. Dunia yang beranjak dari modernisme ke pascamodernisme menjadikan semua disiplin ilmu dan teori berjalin kelindan seperti tidak mengenal batasan. Terjadi simultanitas (keserentakan) menempatkan media dengan beragam tujuan. Film yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai hiburan, kini bisa bertransformasi menjadi alat propaganda politik. Lagu rap yang sebelumnya dikenal sebagai lagu orang kulit hitam sebenarnya adalah media pencarian identitas, eksistensialisme, dan rasa muak dari Afro-Amerika yang dianaktirikan di AS, yang mengaku sebagai negara paling demokratis dan menjunjun...

SARJANA ABAL-ABAL

Gelar sarjana menjadi puncak kepuasan tertinggi bagi mahasiswa yang menempuh studi strata satu. Proses berliku selama empat tahun (minimal) kuliah dengan suka dukanya seolah dibayar lunas dengan wisuda. Orang tua merasa lega, karena tidak lagi bertanggung jawab kepada anaknya. Gelar sarjana juga ajang “penyapihan” anak dari orang tua dalam segi ekonomi. Anak mesti mandiri ketika gelar sarjana didapat. Gelar hanyalah predikat yang menjadi tanda bahwa seseorang telah menempuh pendidikan tertentu dengan spesifikasi (jurusan) tertentu. Menyandang gelar yang diawali huruf “S” yang diikuti huruf di belakangnya menjadi prestise tersendiri bagi mahasiswa. Keluarga dan masyarakat juga ikut bangga dengan anggotanya yang menyandang gelar sarjana. Seremonia wisuda menjadi tanda bagaimana penganugerahan gelar sarjana mesti dirayakan dengan gegap gempita. Bukan gelar itu yang diperdebatkan di sini, namun sejauh mana proses untuk mendapatkan gelar tersebut yang bagi mahasiswa berbeda-beda dala...
Progresifitas Islam Mengikuti Zaman Oleh Junaidi Abdul Munif Islam sebagai agama, baik secara teologis maupun sosial-budaya memang tak pernah habis untuk dikaji. Banyak ilmuwan yang mencurahkan pemikirannya untuk mendalami Islam dari berbagai perspektif. Massifikasi kajian Islam memunculkan konsekuensi bahwa Islam akhirnya dikaji dengan berbagai disiplin ilmu, sesuatu yang mungkin tak terpikirkan oleh “founding fathers” Islam sekalipun, yakni generasi nabi dan sahabat. Perdebatan klasik selalu mengemuka, apakah Islam mesti dikaji dengan ilmu-ilmu yang lahir dari rahim Islam, seperti nahwu, shorof, usul fiqh, tafsir, tajwid. manthiq dan sebagainya atau boleh dikaji dengan disiplin ilmu lain, yang notebene lahir dari rahim Barat, Yunani dan Kristen, yang beberapa abad lamanya menjadi “musuh” Islam? Dikotomi Islam-Barat oleh sebagian kalangan telah memunculkan stigma dan ”vonis” yang satu lebih unggul dari yang lain. Seperti apa yang dikatakan oleh Samuel P Huntington tentang The C...

"SLENCA" DAN HILANGNYA NURANI KITA

“Slenca” dan Hilangnya Nurani Kita Oleh Junaidi Abdul Munif Mas kang mas namine sinten Sakniki dintene Sabtu Mas kangmas kesah teng pundi Sapi kulo pun manak pitu Lagu campur sari berjudul Slenca di atas, mungkin tepat untuk menggambarkan situasi zaman, terutama kondisi kita hari ini, ketika aparatur negara tidak bekerja selayaknya abdi yang melayani raja; yakni rakyat yang menjadi pemilik sah republik ini dalam sistem demokrasi yang kita anut. Slenca, kata untuk menggambarkan ketidaknyambungan komunikasi antara komunikan dan komunikator. Ditanya A menjawab B, juga C, D dan seterusnya. Setiap pertanyaan seperti muspra (lenyap) tanpa bekas. Memang kupingnya yang tuli atau hatinya yang bebal sehingga tidak lagi memahami runtutan logika. Pantun zaman sekarang mengatakan “jaka sembung naik ojek, nggak nyambung jek”. Ketika slenca hadir dalam panggung sosial masyarakat menengah ke bawah, kita tangkap itu sebagai guyonan; bahwa masih ada orang yang tulalit, telmi (telat mikir)...

TUMBAL DAN EUFEMISME POLITIK

Tumbal dan Eufemisme Politik Oleh Junaidi Abdul Munif SRI MULYANI Indrawati (SMI) tidak lagi menjadi menteri keuangan di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Ia pergi untuk menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia (Managing Director Wolrd Bank). Kepergian SMI telah mendapat restu dari Presiden, dan beliau sangat berharap SMI di posisi barunya akan memperkuat hubungan Bank Dunia dengan negara-negara berkembang. Setelah mengalami penundaan, hiruk-pikuk kasus bailout Bank Century yang merugikan negara 6,7 triliun dan menyedot energi para personel di Senayan (Pansus Century) dan masyarakat yang mengikuti perkembangan di media massa, drama ini sempat dilupakan karena ramainya kasus mafia pajak dengan aktor utama Gayus Tambunan dan Susno Duadji. Pengunduran diri SMI kiranya adalah awal terbukanya tabir jawaban dari kasus Bank Century. Ketika isu Bank Century ramai digulirkan, publik (lewat berita di media massa) digiring untuk meyakini bahwa pihak yang paling bertanggung jawab dalam pro...

JURU BICARA KEBUDAYAAN

Juru Bicara Kebudayaan Oleh Junaidi Abdul Munif Seni adalah bagian kebudayaan. Sayang, kebudayaan kini tereduksi menjadi frasa dengan makna material. Kesenian lebih dianggap sebagai sebuah karya materi yang bertolak dari spirit kebudayaan, yang sejatinya adalah faktor penting membangun jati diri dan karakter masyarakat. Reduksi makna kebudayaan yang menciut menjadi kesenian-material adalah sebentuk politik represif di masa Orde Baru untuk membendung gerakan masyarakat yang merongrong kekuasaan yang sah. Di masa keemasan Soekarno, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) adalah contoh "ormas" kesenian yang coba menghadirkan kesenian ke ruang publik. Kesenian pada masa itu adalah alat perjuangan dan kontrol sosial politik pada kekuasaan. Ketika Orde Lama digantikan Orde Baru, Lekra sebagai sayap politik PKI yang dianggap pro-Soekarno ikut-ikutan dilarang. Sejak itulah, kesenian dipelintirkan sebagai produk material yang menegasinya sebagai alat perjuangan politik. Seni dibons...

MENCARI AKAR PATRIAKISME

Mencari Akar Patriarkisme * Oleh Junaidi Abdul Munif DARI mana patriarkisme berasal? Banyak yang menuduh bahwa agama khususnya Islam sebagai lahan subur tumbuhnya patriarkisme. Padahal, dalam teks-teks Islam banyak ditemukan dalil yang sebetulnya menganjurkan kesetaraan gender dan mengeliminasi patriarki. Meski QS Annisa 34 menjelaskan bahwa laki-laki adalah pemimpin wanita, sehingga menyebabkan konsekuensi hukum yang berbeda di antara keduanya, dalil ini kurang kuat dijadikan pijakan untuk menuduh Islam sebagai agama patriarkis. Sebab, banyak ayat lain yang menjelaskan kesamaan antara laki-laki dan perempuan (Umar Shihab, Kontektualitas Al Quran, hal: 13). Contoh yang paling konkret adalah ayat Alquran (Al Hujarat 13) yang berbunyi inna akramakum indallahi atqakum (sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah ketakwaan kalian). Secara gamblang dijelaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah tidak ditentukan oleh jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, tapi kadar ketak...